Cerita Kami di Pulau Handeleum

Pergi ke pulau yang tidak banyak penghuninya merupakan suatu hal yang tidak biasa dan sangat menarik. Kegiatan seperti itulah yang saya dan teman-teman saya lakukan ketika kami mengunjungi salah satu pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

pulau handeleum (20)pulau handeleum (21)

Ketika itu, kami (Padang, Dira, Hari, Taufik, Agung, Iza, Dian, dan Saya) sedang melakukan kegiatan KKN di desa Ujung Jaya, Kec. Sumur Kab. Pandeglang, Banten. Di Desa Ujung Jaya juga sebagian wilayahnya ada yang berbatasan dan juga ada masuk dalam kawasan Taman Nasional. Ketika sedang agak senggang dari kegiatan KKN, kami berencana untuk mengunjungi salah satu pulau yang ada di tengah laut. Pulau tersebut adalah salah satu pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Nama pulau tersebut adalah Pulau Handeleum, sedangkan pulau lainnya yang juga masuk dalam kawasan Taman Nasional adalah Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Pulau Handeuleum adalah salah satu pulau di antara gugusan pulau-pulau karang di teluk Selamat Datang Banten di sebelah timur laut Semenanjung Ujung Kulon. Luas pulau ini lebih kurang 220 Ha. Kami sebenarnya ingin mengunjungi pulau lainnya, namun karena berbagai alasan kami jadinya hanya akan mengunjungi Pulau Handeleum saja. Alasannya juga dikarenakan pulau ini tidak begitu jauh dari pondokan kami dan bisa dikunjungi dalam waktu satu hari saja. Jika mengunjungi kedua pulau lainnya, kami harus menginap di sana, sedangkan kami juga memiliki tanggung jawab terhadap tugas KKN kami.

pulau handeleum (1)

pulau handeleum (4)

Pulau Handeleum sangat sepi tetapi bukan berarti tidak berpenghuni, hanya saja pulau ini hanya ditinggali oleh petugas taman nasional dan kadang-kadang ada juga pengunjung yang menginap di pulau tersebut. Di pulau ini terdapat bangunan yang berfungsi sebagai balai tempat petugas Taman Nasional Ujung Kulon dan juga beberapa ruangan untuk pengunjung menginap (Resort Pulau Handeleum).

pulau handeleum (7)

Di pulau ini terdapat beberapa spesies tanaman dan juga satwa. Tanaman, misalnya bakau, kelapa, dan tumbuhan lainnya yang saya juga kurang begitu paham jenisnya. Sedangkan hewannya paling sering dilihat adalah rusa (Rusa Timorensis) yang agak jinak “jinak-jinak merpati”, dan juga terdapt ular Phyton.

pulau handeleum (19)

Di pulau Handeleum kita bisa menemui banyak sekali pohon bakau dan juga akar-akarnya yang tajam. Hal itu dikarenakan pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove/bakau. Selain itu seperti halnya pulau di tengah lautan lainnya, tentu di pulau Handeleum juga memiliki pantai. Tetapi pantai tersebut tidak begitu panjang dan luas. Pantai dipulau ini sangat cantik dan alami, pasir pantainya berwarna putih bersih dan juga terdapt beberapa karang-karang kecil yang cukup tajam. Selain itu, kita akan menemui akar pohon bakau yang tajam dan siap untuk menusuk kaki-kaki kita. Oleh karena itu disarankan untuk selalu menggunakan alas kaki ketika berada di pantai di pulau Handeleum.

Pulau Handeleum memiliki pesona lainnya yaitu daerah Cigenter, Padang Penggembalaan Cigenter, dan Cikabeumbeum yang jika ditempuh bisa menghabiskan waktu selama 2 (dua) hari. Untuk melewati daerah tersebut diperlukan perahu/kano karena akan menyusuri sungai. Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan di pulau ini adalah bersampan/canoing menyusuri Sungai Cigenter sambil melihat tipe hutan hujan tropis sepanjang sungai. Pada bagian hulu sungai terdapat rute jalan setapak yang melintasi tumbuhan bamboo menuju air terjun yang bertingkat.

( http://www.ujungkulon.org/pulau/pulau-handeleum)

Untuk mengunjungi pulau Handeleum kita bisa menggunakan beberapa alternatif, bisa dengan menaiki perahu bermesin atap terbuka atau perahu bermesin yang memiliki atap. Pada perjalanan kami waktu itu, kami menggunakan perahu yang bermesin namun tidak memiliki atap sedangkan ketika teman kami yang lainnya kesana, mereka menggunakan perahu yang agak besar dan juga memiliki atap. Dengan menggunakan perahu bermesin tanpa atap, kita akan lebih leluasa melihat pemandangan laut yang luas dan juga ketika akan lebih leluasan melihat keindahan pulau-pulau karang lainnya. Cukup menarik jika kita bisa bertualang di tengah laut dan bisa menikamati lautan yang begitu luas tersebut. Cukup meneggangkan juga dan harus ektra hati-hati terlebih lagi jika kita tidak bisa berenang. Sedangkan ketika menggunakan perahu yang agak besar dan beratap, mungkin akan lebih tenang dan tidak sebegitu was-was ketika menggunkan perahu agak kecil yang tanpa atap.

Dengan sedikit pengetahuan dari cerita-cerita penduduk lokal tentang pulau tersebut dan juga ada yang dari Internet, kami kemudian memutuskan untuk pergi kesana. Pagi itu di bulan Agustus 2011, kami telah merencanakan akan pergi ke pulau tersebut dan sudah menyiapkan perbekalan untuk mengunjungi pulau tersebut. Kami juga sudah menyewa perahu, membeli beberapa kilogram ikan untuk kami panggang di pulau tersebut, air minum, pakai ganti, dan tentunya kamera.

DSC02739Kami sangat senang akan berlibur disana, namun cuaca berkata lain. Kami sudah bersiap-siap sejak pagi, tetapi turun hujan deras dan terus rintik-rintik hingga menjelang siang. Cukup kecewa juga tak kala persiapan sudah matang namun cuaca kurang mendukung. Menurut warga, jika ke sana ketika turun hujan akan sangat berbahaya terlebih lagi kesananya harus melewati lautan yang luas. Namun kami tetap berdoa dan berharap hujan akan segera berhenti dan cuaca akan bersahabat dengan kami. Setalah menjelang siang, kira-kira pukul 11 siang cuaca mulai bersahabat dan kami pun segera berangkat menuju pulau tersebut ditemani oleh Pak Mahmud, salah seorang penduduk yang cukup kami kenal disana karena beliau adalah supir angkot yang sering mengaantar kami ketika ada teman yang akan ke kota. Selain di temani oleh pak Mahmud, kami juga ditemani oleh Ibu-ibu dan seorang gadis muda, saudaranya Pak Mahmud, serta anak-anak dan keponakan Pak Mahmud yang masih SD ketika itu. Pak Mahmud juga sudah sering mengantar pengunjung ke pulau tersebut jadi tidak salah ketika kami memintanya menemani kami ke pulau tersebut.

DSC02749Dengan perlengkapan dan perahu bermesin yang sudah siap berlayar tersebut. Kami melajukan perahu tersebut ke Pulau Handeleum. Perjalanan kami dimulai dari sungai di belakang desa tempat dimana perahu yang kami sewa dirapatkan. Perahu tersebut kemudian melaju menuju pinggir laut dan akan melaju mengarungi lautan. Sewaktu di pinggir laut kami harus mendorong perahu tersebut hingga ke tengah, sebab air laut sudah cukup surut di waktu tersebut karena hari sudah cukup siang. Dengan semangat kami pun mendorong perahu tersebut menuju ke jarak tertentu di laut yang bisa digunakan untuk menjalankan perahu. Setelah perahu memungkinkan untuk dijalankan, kami kemudian menaiki perahu tersebut dan siap untuk berlayar menuju pulau yang akan kami tuju. Tidak ada perasaan cemas yang kami rasakan ketika berada di tengah lautan. Hanya perasaan senang dan menikmati keindahan laut saja yang kami pikirkan. Padahal di antara kami banyak yang tidak bisa berenang, namun karena jiwa kami memang suka jalan-jalan/berpetualang perasaan tersebut pun terasa luntur karena perasaan senang dan kebersamaan kami. Dengan bersemangat kami pun berfoto-foto di perahu di tengah lautan tersebut. Walupun perahu yang kami tumpangi tergolong kecil dan harus selalu waspada, namun kami tetap tenang demi mencapai pulau tersebut.

pulau handeleum (16)

Setelah kurang lebih satu jam di tengah lautan, akhirnya kami sampai di dermaga pulau tersebut. Tetapi setibanya kami di dermaga turun rintik-tintik hujan dan kemudian segera melebat. Kami pun segera berlari menuju salah satu pondok kecil di pinggir dermaga untuk berteduh sejenak, namun karena hujan masih terus mengguyur dan dimungkinkan akan lama redanya, kami kemudian memutuskan untuk melanjutkan saja perjalanan kami menuju bangunan petugas taman Nasional tersebut. Setibanya di sana, hujan masih terus mengguyur, pakain kami tentu saja sudah basah. Walaupun demikian kami masih setia menunggu hujan reda sambil melihat-lihat isi bangunan tersebut termasuk poster-poster tentang hewan yang dilindungi yang ada di pulau tersebut. Sambil menunggu hujan agak reda, kamipun berfoto-foto dengan narsisnya di bangunan tersebut.

pulau handeleum (17)pulau handeleum (22)

Tidak berapa lama kemudian hujan reda, kami kemudian berjalan-jalan berkeliling wilayah tersebut, kami ingin masuk ke hutan di sana, tetapi karena tadi hujan dan hari juga sudah siang, kami tidak jadi masuk ke hutan yang ada di pulau tersebut. Kami hanya melihat-lihat rusa yang ada di pinggiran hutan dan sempat memfotonya. Setelah itu kami mulai berjalan mendekati air dan melihat lihat pinggiran laut disana.

pulau handeleum (18)pulau handeleum (3)pulau handeleum (23)

Di sana kami menemui akar-akar bakau yang bentuknya tajam dan akan lebih bijak jika kami memakai sandal daripada tertusuk akar tersebut. Selain itu kami juga melihat-lihat pepohonan dan pantai, lebih tepatnya pinggiran laut yang berpasir. Pasirnya sangat putih dengan air laut yang tenang. Di pinggiran pantai tersebut kami juga menemukan rel kereta api. Menurut petugas pulau tersebut, dulunya pada masa penjajahan di pulau tersebut akan dibangun rel kereta api yang menghubungkan pulau tersebut dengan pulau lainnya di Banten. Sungguh rencana yang luar biasa namun sayangnya rencana tersebut tidak terealisasi.

pulau handeleum (24)pulau handeleum (25)

Setelah cukup puas melihat-lihat area pantai tersebut. Kami kemudian melihat perahu dan ingin mencoba untuk berperahu menuju laut yang tenang tersebut. Padahal kami semua tidak ada yang pandai mengayuh perahu. Walupun demikian dengan semangat kami pun mulai mendayung perahu itu, hanya dua orang teman kami saja yang tidak ikut kekonyolan kami, sisanya tentu saja melakukan kekekonyolan dengan mendayung perahu tersebut. Ada dua perahu yang kami tumpangi, satu perahu yang kami tumpangi berisi empat orang, perahu yang saya naiki. Dan satu perau lagi yang ditumpangi dua teman kami dan anak perempuan pak Mahmud. Perahu yang saya tumpangi bersama teman-teman sulit dikendalikan, karena kami memang tidak mengerti cara menggunakannya, tetapi dengan semangat akhirnya perahu tersebut bisa bergerak juga. Sementara perahu satunya lagi cukup lancar ditumpangi, teman-teman saya tersebut juga sempat beberapa kali berfoto-foto di atas perahu.

pulau handeleum (15)

pulau handeleum (14)

Setelah beberapa puluh meter ke arah lautan, kami kemudian di panggil oleh petugas taman dan juga pak Mahmud, mereka menyarankan kami untuk tidak jauh-jauh berperahu dan segera kembali ke pulau. Karena itu, kami pun bergegas mengubah arah untuk merpat ketepian tetapi kami kesulitan. Hal itu lagi-lagi karena kami tidak tahu caranya, namun dengan kekompakkan kami, akhirnya kami bisa menguasai keadaan tersebut. Tetapi tidak berapa lama kami mendayung lagi, tiba-tiba perahu kami tidak mau bergerak. Entah karena apa perahu tersebut tidak mau bergerak, kami juga kurang tahu. Akhirnya, teman saya mengusulkan untuk turun dari perahu dan memperkirakan kedalam air laut tersebut. Dengan perkiraan air laut tersebut tidak akan membuat kami tenggelam, saya dan teman saya, Taufik, segera turun dan berusaha untuk mendorong perahu kami tersebut. Setelah beberapa saat didorong, perahu tersebut berhasil melaju lagi dan kami pun kembali naik ke perahu tersebut dan ikut bergabung untuk mengayuh perahu tersebut bersama-sama.

Sesampainya di pinggir laut kami kemudian merapatkan perahu kami, demikian juga dengan perahu teman kami yang lainnya. Setelah merapatkan perahu tersebut kami memiliki ide konyol lainnya, kami ingin berenang di pinggiran pantai tersebut dan sesekali menyelam di dasar laut. Kami semua termasuk anak-anak pak Mahmud, dan keponakanya kecuali Iza, berenang dan menyelam dengan konyolnya di air laut tersebut. Setelah berpuas-puas berenang tersebut kami kemudian dipanggil oleh pak Mahmud. Kami disuruh untuk segera naik ke daratan dan pulang karena hari sudah mulai sore, jadi kami harus segera pulang ke pondokan KKN kami.

pulau handeleum (26)

Kami kemudian beranjak ke daratan dan tidak lupa mengabadikan diri di pinggiran pantai tersebut bersama dengan penduduk yang ikut bersama kami tadi. Setelah itu kami kemudian membilas tubuh kami di kamar mandi di kantor tersebut. Kamar mandinya gelap karena tidak ada lampu. Jadilah kami mandi dalam keadaan gelap gulita di tambah lagi cuaca memang sudah mendung. Sungguh cukup horror menurut pendapat kami. Setelah mandi dengan antri, kami kemudian makan ikan yang sudah disiapkan oleh ibu yang ikut kami tadi. Kami makan di rerumputan dekat kantor Taman Nasional tersebut. Ketika makan tersebut, perasaan kami jadi kurang berselera sebab di rerumputan tersebut terdapat kotoran-kotoran hewan, tidak besar memang tapi cukup untuk membuat selera makan berkurang tetapi karena sudah diburu-buru pulang mau tidak mau kami harus menghabiskan makanan tersebut dengan cepat.

pulau handeleum (5)pulau handeleum (6)

Setelah itu kami pun beranjak pulang menuju dermaga pulau Handeleum tadi, tidak lupa kami menyempatkan diri untuk berfoto di tulisan selamat datang di pulau tersebut. Kemudian kami naik ke perahu kami dengan cepat dan mulai berangkat ke tengah laut.

pulau handeleum (9)pulau handeleum (8)

Di tengah laut kami kemudian hanya duduk diam karena angin sore sudah berhembus dengan dinginnya. Selain itu matahari senja pun tidak begitu nampak jelas karena tertutup oleh gumpalan awan, pertanda akan hujan lagi. Walaupun demikian kami masih menikamti senja tersebut dengan rasa dingin yang makin menjalar ke kulit.

pulau handeleum (10)

Setelah mengarungi lautan tersebut dan hari semakin gelap, kami kemudian akan segera sampai di pinggir laut tempat kami mendorong perahu ketika berangkat tadi. Namun tiba-tiba perahu yang kami tumpangi hampir terbalik di hempas ombak laut. Cukup mengejutkan dan membuat takut kami. Tetapi perahu tersebut bisa kembali stabil dan mulai melaju lagi hingga kami sampai di tempat merapatkan perahu.

Setelah itu kami kemudian kembali ke pondokan kami dengan berjalan kaki. Setibanya di pondokan, kami kemudian membilas lagi tubuh kami. Setelah itu, kami bercerita-cerita lagi tentang kekonyolan kami di pulau tersebut. Tiba-tiba kami mendapat cerita yang mengejutkan dari salah seorang teman kami. Menurut yang ia dengar dari Pak Mahmud, tempat kami berenang dan berperahu tadi itu adalah tempat buaya berjemur dan berenang pada malam hari, tetapi mungkin juga pada siang hari buaya tersebut berjemur terlebih lagi ketka keadaan sepi dan yang lebih mengejutkan lagi, mungkin saja ketika kami sedang melakukan kekonyolan saat berenang dan berperahu tersebut kami sedang diintip oleh buaya-buaya tersebut. Wooo… Seramnya!! Kami jadi berpikir, jika saja kami tahu cerita ini sebelumnya. Kami mungkin tidak akan pernah berperahu atau berenang dengan kekonyolan kami seperti siang tadi dan mungkin tidak akan ada cerita kami berenang di tampat buaya berjemur.

pulau handeleum (2)

Humm… Pulau handeleum meninggalkan jejak kenangan yang sulit dilupakan oleh kami. Semoga menjadi pengalaman yang berharga dan perlu kami ingat juga, bahwa sebelum pergi ke suatu tempat harap mengetahui dulu kondisi tempat tersebut. Kalau tidak, buaya mungkin akan mengintai!! Hati-hati!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s